[1]
Ini terasa seperti berada di halaman awal.

"Selamat datang."

Di mana semuanya bukan lagi tentang aturan sekolah atau pun tata tertib. Tak akan ada tugas yang membuat Jimin pusing, guru yang menghukumnya karena terlambat atau gangguan geng populer yang merasa menguasai sekolah. Tidak ada.

Namun sayangnya, kehidupan di luar sekolah tak lebih dari mimpi buruk dengan mata terbuka. Bisa jadi malah lebih menyeramkan daripada itu. Mungkin pada awalnya ini akan terasa menyenangkan, bebas dari segala tekanan dan tuntutan mendapat nilai besar.

Tapi beberapa waktu kemudian, dia baru sadar bahwa kehidupan nyata juga tak akan berjalan seramah yang dia bayangkan.

Jimin tersenyum kecil, melewati pelayan toko yang baru saja menyambutnya.

Sambil memicingkan mata, ia berjalan menyusuri rak-rak berisi barang elektronik yang tersusun rapi.

"Aku ingin satu earphone."

Bola mata Jimin beredar pada bidang di samping meja kasir. Di sana berbagai variasi earphone tertata hampir menyelimuti dinding. Matanya tak berhenti bergerak, mencari dengan agak kikuk. Dari satu model ke model lain, semuanya tampak menarik. Tapi… semuanya sama. Jadi, ia menahan diri untuk tidak asal menunjuk.

"Aku… ingin yang warna hitam."

"Yang ini?"

"O… oh… iya, yang itu."

Meski pada dasarnya, semuanya tampak hitam, sebagian abu-abu dan sebagian lagi… putih.

"Semuanya 2500 won."

"Terimakasih."

Begitu keluar dari toko, suhu jalanan terasa jelas, begitu kontras dengan hawa ruangan yang sejuk oleh pendingin ruangan. Kota ini terasa pengap, kelembaban udara seperti menurun.

Ia mengembuskan napas pelan.

Deru mesin kendaraan menyusup ke dalam pendengarannya, bising yang membuat telinga Jimin terasa penuh. Ketika berbalik, angin dari mobil yang melintas terasa menampar pipi, bersatu bersama debu dan hawa jalanan yang berdifusi dengan udara.

Jimin mengedarkan pandang. Kali ini, entah mengapa semua orang terlihat lebih terburu-buru. Lalu… secara tiba-tiba rintik hujan membasahi kepalanya. Kian lama kian menderas. Tubuhnya basah kuyup, kecuali satu: earphone yang ia dekap sampai rapat.

-o0o-

Ketika pintu apartemen terbuka, wajah jengah Yoongi berada tepat di hadapannya. "Kau bilang hanya mengembalikan kotak bekal?"

Masih di ambang pintu, tetesan air dari baju Jimin nyaris membentuk sebuah genangan di lantai. Napasnya terdengar payah, bibirnya menggigil, pucat, tidak ada yang mampu terlontar, bahkan untuk mengatur gemelatuk gigi saja sudah sulit.

"Masuk. Ganti pakaian."

"A-aku…"

"Cepat masuk!"

Jimin berlalu. Dengan tubuh yang menggigil, ia berjalan ke arah kamar mandi. Masih sempat berjengit karena hentakan keras Yoongi pada pintu apartemen.

Plastik berisi earphonenya masih di sana. Ditautkan pada gantungan handuk di belakang pintu kamar mandi, sebelum pada akhirnya Jimin melepas pakaiannya satu persatu.

Pagi tadi, setelah meminta izin pada Yoongi dengan susah payah, ia baru bisa pergi ke rumah Jungkook, mengembalikan kotak bekal yang sempat dipinjamnya dulu di masa sekolah. Kepergiannya ke rumah Jungkook memang tidak terlalu lama. Jadi, di jalan pulang Jimin memutuskan untuk mampir ke toko elektronik, membeli earphone.

-o0o-

"Sekarang jelaskan, kenapa kau bisa pulang terlambat?"

Jimin berhenti berjalan menyebrangi ruang tengah, menoleh ke arah Yoongi yang sudah menantinya di dekat meja.

"Tadi aku—"

"Bukan hanya menyahut, tapi hampiri!"

Jimin menelan ludah, mendekat.

"Di jalan aku melihat jam tanganku, masih pukul empat sore. Jadi, aku pikir ada beberapa jam lagi sebelum matahari tenggelam. Tapi tiba-tiba cuacanya," ia menunjuk ke arah luar, "hujan."

"Jadi kau?"

"Aku berteduh dulu. Tapi aku takut terlalu malam. Jadi—"

"Berapa lama kau di rumah Jungkook, hah? Kau bilang hanya mengembalikan kotak bekal?!"

"Aku tadi—"

"Kau kehujanan," selanya cepat, memandang Jimin tak sabar, "itu? Hujan! Kenapa kau tidak menghub—"

"Aku tidak tahu hujan akan turun," Jimin berkata nyaris tanpa intonasi, matanya menyorot tembok di belakang pundak Yoongi. Kosong. "Cukup sulit memutuskan mana langit mendung ketika setiap hari aku melihat langit berwarna abu-abu. Itu… bagiku terlihat… sama saja."

Jimin menoleh, memandangi mata sempit Yoongi yang balas menatapnya malas.

"Bagaimana caranya?" Jimin berkata pelan, bernapas, menciptakan melodi di antara keheningan apartemen yang sempit. "Bagaimana caranya membedakan langit mendung dan cerah jika pada saat itu aku tidak mendengar ada petir atau gemuruh?" Ia mengerling, mengarah ke langit-langit, seperti sedang mengingat sesuatu. "Tiba-tiba saja suhu kota membuatku berkeringat, orang-orang bergerak lebih cepat. Kupikir ada apa. Kemudian hujan turun tanpa peringatan sekaligus."

Yoongi mendecih. "Jangan mengulanginya lagi kalau kau masih ingin tinggal di sini." Ia kemudian berlalu, dengan langkah gontai dan ekspresi wajah sinis. Meninggalkan Jimin di ruang tengah dan rambut basahnya yang kacau, kakinya masih terlipat di sana, sementara matanya memandang lantai sekitar penuh kebingungan.

-o0o-

Yoongi melarikan diri ke kamar mandi. Seorang lelaki yang terlihat dingin dan tak tersentuh.

"Hhh…."

Ia membasuh wajahnya dengan air keran. Menunduk sebentar, perlahan bangkit dan geraknya terhenti—begitu saja, secara tiba-tiba, memandang pantulan benda di cermin. Tepat di belakangnya. Ia berbalik, menatap masih dengan wajah yang basah, bahwa plastik berwarna buram menggantung di pengait handuk.

Sebuah earphone.

Kotaknya masih kering dan di balik sisi transparan, Yoongi mengetahui ini warna hitam. Berbeda dengan kejadian beberapa bulan yang lalu…. Ketika itu sebuah kotak hadir bersama barang-barang lainnya di meja. Sebuah hadiah ulang tahun dari Jimin tampak sederhana, berbalut kertas kado yang terlipat kurang rapi. Namun waktu itu, isinya adalah earphone berwarna merah muda, terlampau terang seperti untuk wanita.

"Astagaa! Aku lupa menanyakan warnanya," tutur Jimin khawatir, hari itu. "Aku akan menggantinya kalau aku sudah punya uang, Hyung!"

Inilah dia, Yoongi si lelaki sinis, si apatis palsu karena nyatanya ia masih peduli. Seperti terjerumus dalam lorong yang hitam. Tapi dia tidak bisa berhenti. Alih-alih, dia malah mendengar suaranya sendiri berdengung, pertanyaannya beberapa bulan yang lalu. "Kenapa earphone?"

"Karena kau selalu terlihat bosan dan aku tidak ingin kau seperti itu. Kelihatannya buruk, seperti abu-abu. Jadi kupikir, musik bisa membuatmu lebih hidup?"

-o0o-

Pagi itu Jimin bangun dengan badan yang demam. Ia masih meringkuk di dalam selimut ketika Yoongi berteriak di ambang pintu, mengatakan bahwa hari ini ia akan pulang kerja sekitar jam delapan malam.

Dalam suasana apartemen yang sepi, Jimin berbalik, menatap langit-langit, merasakan suhu panas tubuhnya dan kepala yang terasa berat. Mencoba mengingat-ingat, ia merasa sebuah tangan dingin menyentuh dahi dan lehernya beberapa menit yang lalu, waktu tertidur tadi.

Mungkin Yoongi?

Memangnya siapa lagi?

Jimin bangkit dan berjalan keluar dari kamar menuju kulkas. Menghampiri benda setinggi pinggangnya hanya untuk mengecek catatan baru. Tertulis dengan pulpen gel di atas sticky note berwarna kuning cerah. Jangan menyalakan kompor, kau bisa meledakkannyaTelepon Bibi Nam kalau ada apa-apa (tekan tombol 2 agak lama).

Matanya kembali beredar. Satu sticky note lagi di sisi lain. Paracetamol untuk demam. Jangan meminumnya bersama susu.

-o0o-

Yoongi mengaku bekerja di supermarket, lalu pada malam hari ia bekerja paruh waktu di sebuah toko ramen sebagai pencuci piring. Di saat orang lain hidup untuk meraih mimpi, ia hanya tahu bekerja untuk bertahan hidup. Di malam hari yang melelahkan, matanya terasa kesat. Dan jika diizinkan meminta sesuatu, ia hanya ingin tidur yang nyenyak.

Terkadang, selesai menyuci piring, wanita pemilik toko ramen itu memberikan makanan sebagai bonus, selain memuji kinerjanya yang bagus. Ada kalanya ia pulang membawa ramen hangat, atau sesekali beberapa botol soju kalau udara terasa begitu dingin. Mungkin buah-buahan di beberapa kesempatan. Terkadang apel atau jeruk.

Malam ini ia pulang membawa apel, cocok sekali. Begitu pintu apartemen terbuka, semuanya masih tampak rapi dan senyap, kecuali sayup-sayup gelak tawa dari ruang apartemen lain.

"Aku pulang." Yoongi melepas baju hangat dan menggantung tasnya, mencari-cari keberadaan Jimin setelah dua tangannya menggenggam masing-masing satu apel merah. "Jimin!"

"Hyung? Kau kah itu?"

"Ya." Yoongi berjalan mendekat. Jimin tengah duduk memunggunginya, memeluk lutut menghadap pintu geser yang merangkap sebagai jendela. "Sedang apa?"

"Oh?" Jimin menoleh sekilas. "Aku hanya diam, memperhatikan langit."

Keadaan mendadak menjadi canggung. Malu bercampur dengan keremangan. Sayup-sayup suara percakapan di luar apartemen berubah semakin samar. Yoongi tidak tahu harus memulai dari mana.

"Aku," ujarnya, terjeda, "minta maaf."

Jimin menoleh, mengangkat alis dan menekan-nekan bibirnya sendiri. "Ya?"

Yoongi menyodorkan apel. "Maaf."

"Tidak apa-apa." Jimin menerimanya sambil tersenyum. "Terimakasih." Yoongi tidak akan suka kalau ia berbicara sambil makan, jadi Jimin putuskan untuk memutar apel itu di tangannya, pelan, seperti sedang mencari cacat. "Orang-orang bilang bintang itu indah." Alisnya mengernyit beberapa kali. "Apa iya?"

Yoongi melirik sekilas.

"Dari mataku, itu terlihat seperti titik-titik putih di antara hitam. Apa memang begitu, Hyung? Atau aku melewatkan sesuatu?"

"Mereka bersinar. Ada pendar."

Jimin mencibir, "sayang sekali aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Dan—Oh iya, aku juga yakin, langit malam tidak sepenuhnya berwarna hitam, kan? Apa itu cenderung seperti warna pagi namun lebih pekat? Terkadang aku melihatnya seperti degradasi warna, hitam, abu-abu gelap sampai abu-abu terang. Aku jadi penasaran seperti apa war—"

"Jimin."

Ia menoleh. "Hm?"

“Maafkan aku. Aku tidak tahu rasanya jadi dirimu. Yang kemarin itu—” Yoongi menggaruk tengkuk serba salah, meralat ucapannya tergesa, "Aku, maksudku, aku hanya ingin—"

"Tidak masalah." Jimin menghela napas. "Ini terasa seperti aku tinggal di tiga lembar kertas. Di lembar pertama aku hidup, di kedua aku berkembang, dan di lembar ketiga aku mati. Dan semuanya berwarna abu-abu. Semuanya. Tidak ada warna lain. Tiga kertas abu-abu." Jimin menerawang. "Tapi, aku tidak menyalahkanmu. Bahwa kau yang selamat, dan bukan aku. Bahkan jika aku diberi kesempatan untuk lahir kembali, aku tidak akan memohon tinggal di badan yang lain. Yang ini saja, tidak apa-apa." Ia mengembuskan napas, mengatur suaranya yang nyaris bergetar. "Tapi, di kehidupan yang lain, aku berharap Tuhan bisa memberitahuku apa yang selama di dunia ini aku tidak tahu. Tentang warna-warna itu. Tentang warna yang kau bilang terlihat seperti wanita. Tentang warna apel ini. Tentang warna api yang kau bilang membara dan berbahaya."

Yoongi tak menjawab.

"Di kehidupan yang lain, aku ingin punya alasan yang kuat untuk tidak berkata 'aku buta warna total', 'aku tidak bisa membantumu memilih baju yang sesuai', 'jangan menyuruhku mengambil sesuatu dengan menyebutkan warnanya saja.' Aku tidak ingin mengatakan hal-hal semacam itu lagi." Jimin tertawa sendiri, mencoba mengurai kacanggungan yang terlanjur. "Dan, tentang kulit kita, apa warnanya, Hyung?"

Yoongi menoleh, mereka bersitatap. "Terang," jawabnya, tanpa sadar. "Putih, kulitku lebih pucat, seperti orang sakit. Dan milikmu agak lebih baik."

"Seperti kertas? Apa menyeramkan punya kulit seterang itu?"

"Tidak, bukan kertas. Ini seperti… maksudku…."

Jimin tak mempedulikannya, karena percuma. Sejelas apapun, ia tak akan tahu warna apa yang Yoongi maksud. Tapi dia tetap penasaran. "Dan bola mataku, apa warnanya?"

Mereka berpandangan. Hal sepele yang tak pernah Yoongi perhatikan, hingga ia butuh menatap jauh ke dalam. "Cokelat gelap."

Jimin tersenyum kecil, meski ia tidak tahu warna dirinya sendiri. "Dan jika aku bisa melihat, kira-kira warna apa yang akan aku sukai, Hyung?"

"Biru."

"Biru?"

"Seperti warna langit yang cerah."

Entah mengapa, meski ia tidak tahu biru itu seperti apa. Namun, mulai detik ini ia merasa telah jatuh cinta pada warna biru. Jatuh cinta karena ia percaya. Ia percaya Yoongi memilih warna terbaik untuknya. Karena ia percaya, selama itu adalah Yoongi.
-TBC-