Showing posts with label cerpen dicky smash. Show all posts
Showing posts with label cerpen dicky smash. Show all posts

Thursday, July 5, 2012

bolehkah... (part 4)


Pagi itu aku terdiam di ruang tamu. Membiarkan sebagian mukaku ditimpa cahaya matahari pagi yang menerobos masuk lewat jendela. Aku tidak peduli walaupun itu menyilaukan. Yang kupikirkan adalah Dika. Dimana ia tidur semalam? Dan apakah dia sudah makan ? Suasana rumah begitu sepi tanpa ada lagu korea yang selalu ia putar. Ah, aku merasa mulai gila. Lebih baik aku mulai menyalakan music korea dan mungkin hal itu bisa membuatku merasa bahwa Dika berada di tempat ini, bersamaku.
Tak lama kudengar suara pintu yang diketuk. Aku harap itu seseorang yang bisa membuat diriku lebih berguna. Ku bukakan pintu dan..
“Rifa?”
Kuamati sosok perempuan yang berdiri di hadapanku. Ia tersenyum. “Kamu..” Ujarku seraya berkerut samar.
“Aku sarah, temen Dika di lokasi syuting.”
                                                                        ***
Kami duduk berhadapan di meja makan. Kulihat sarah mengaduk kopi yang telah kubuatkan untuknya.
“Ada apa?” Tanyaku.
“Aku turut prihatin atas hal yang menimpa Dika.” Aku bisa melihat ekspresi wajahnya memang sesuai dengan apa yang ia ucapkan.
“Kamu yang sabar ya..” Ujarnya lagi. Aku bersidekap dan menatap matanya lurus-lurus. Benar apa yang Dika ucapkan, Sarah memang baik dan juga menurutku, dia penuh ketulusan.
“Dika banyak cerita tentang kamu. Tentang pernikahan kalian.”
Mataku melebar seketika. Kaget atas apa yang baru Sarah ucapkan. Apa yang Dika katakan padanya mengenai  aku?
“Hah!?”
Aku melihatnya tersenyum sambil menerawang langit-langit ruangan ini.
“Pernikahan terpaksa diantara kalian berdua. Aku lucu mendengarnya. Ternyata di masa modern seperti ini perjodohan masih berlaku , ya?”
“Bukan! Ini bukan perjodohan biasa! Dan ini semua nggak se-simple yang kamu pikirin, Sar.”
“Tapi Dika nggak cerita itu ke aku.” Ujarnya
Aku senang menerima kenyataan ini. Ternyata Dika tidak membeberkan rahasia ini kepada teman dekatnya sendiri.  Biarlah hanya kami yang tahu bahwa ini bukan perjodohan biasa. Biarlah kami yang memahaminya.
“Lupakan…” Ucapku.
Sarah kembali menerawang langit-langit seperti mengingat-ngingat bagaimana Dika menceritakan hal itu padanya, “Dia bilang, kamu cewe paling tegar dan cantik di matanya. Dia suka cara kamu ngiket rambutmu. Dia suka kening kamu yang indah itu, yang disisi-sisinya terdapat rambut-rambut berukuran pendek dan halus. Kamu cantik dengan poni tebalmu itu. dia paling seneng kalau kamu mengikat poni itu dan membiarkan dia melihat keningmu yang sempit. Dia suka itu semua. Dia juga bilang bahwa kamu adalah cewe dengan poni ter-tebal yang pernah ia temui sepanjang hidupnya.”
Aku merasakan dadaku berdenyut nyeri ketika Sarah mengatakan “Sepanjang hidupnya.” Sekarang saja aku tidak tahu dia ada dimana . Apakah hidupnya hanya sepanjang ini?
“Tapi, Dika pernah bilang ke aku. Kalau cewek idamannya itu park bom bukan aku.” Ucapku.
“Ya… dia juga pernah bilang kayak gitu ke aku. Tapi coba kamu pikir lagi deh. Park bom itu idolanya, dia bilang kalau cintanya ke idola nggak akan pernah bisa disamain dengan cintanya ke istrinya. Antara istri dan idola itu beda, Fa. Itu yang selalu dia bilang ke aku. ”
“Aku juga tau kalau kalian berjanji akan belajar mencintai satu sama lain , kan? Tapi engga buat Dika. Dia bilang bahwa dia nggak perlu belajar mencintai kamu, karena dengan mudah dia mencintai kamu, fa. ”
Aku masih tidak percaya. Semua pertahanan dan benteng di hatiku seolah roboh hanya karena kata-kata sederhana yang Sarah ucapkan. Benteng itu roboh dan menimpaku. Aku merasa sakit. Caranya mengucapkan dengan ketulusan yang membuat semua itu berbeda, aku menjadi percaya bahwa ketulusan mempunyai kekuatan sendiri dibanding sebuah kata-kata bualan yang menjilat.
“Kamu tau nggak? Dia seneng banget waktu kamu dateng ke lokasi syuting. Dia pernah cerita sama aku kalau dia juga ingin seperti yang lain. Di lokasi didatangi oleh seseorang yang dicintai, entah itu keluarga atau pacar. Katanya nggak mungkin kamu dateng ke lokasi syuting. Tapi ternyata kamu dateng. Dia nggak nyangka, dia seneng. Bener-bener seneng.
Terus aku Tanya , bakal dibeliin apa gaji pertamanya itu? Dan dia jawab, dia bakal kasih kamu sesuatu barang. Tapi dia nggak kasih tau aku. Dia Cuma bilang, biarlah ini jadi kejutan dan rahasia diantara kalian. Aku terharu, aku baru nemu cowok kayak dia. Dia orang baik-baik , fa. Dia baik banget. ”
Aku mengangguk. Mataku mulai terasa panas. Tak bisa tertahankan lagi, aku menangis. Sarah pindah duduk menjadi di sebelahku. Aku menoleh melihatnya. Ia membuka kedua tangannya.  Menyodorkan sebuah pelukan. “Orang-orang bilang, pelukan bisa buat kamu lebih nyaman dan merasa terlindungi.” Ucapnya. Tanpa pikir panjang aku pun kini berada di pelukannya. Hanyut dalam suasana. Kubiarkan semua air mata ini membasahi baju Sarah.
                                                            ***
Kini aku merasa baikan. Tapi masih terdiam tanpa ingin memulai pembicaraan.
“Lagu korea?” Tanya sarah seraya menunjuk sumber suara dari ruang tengah.
Aku mengangguk.
“Kenapa? Dika bilang kalau kamu nggak terlalu suka music ini?” Tanya Sarah.
“Nggak apa-apa. Aku cuma ingin suka atas apa yang ia suka. Dan kayaknya sekarang aku mulai suka sama lagu-lagu ini.”
Aku melihatnya mengangguk paham.
“Apa udah ada perkembangan dari pihak ke polisian?” Tanyanya.
“Engga ada.”
“Aku pikir… dia terjebak.” Ucap sarah.
“Maksud kamu?” Jujur, aku sama sekali tidak mengerti apa yang ia katakan.
“Dia terjebak di ruang dan waktu yang berbeda dengan kita. Disuatu tempat , entah dimana. Dia… terjebak di mesin waktu.”
Gila! Ia benar-benar gila! Mana mungkin itu semua terjadi. Ya, aku tahu dia memang tipe orang yang senang bercanda, namun membuat lelucon tentang Dika bukanlah perilaku yang tepat untuk saat ini.
“Kamu gila ?! Hah?! Jangan bercanda!”
“Enggak! Aku sama sekali enggak bercanda, fa. Dia bener-bener terjebak!!! ”
“Aku tau, kamu juga terpukul , Sar. Tapi , aku sebagai istrinya aja nggak sampai berkhayal seperti itu! Kamu berlebihan.” Sahutku dengan nada suara yang semakin meninggi. Benar-benar tak habis pikir .
“Aku nggak lagi berkhayal, fa. Ini serius. Aku pernah ngalamin itu semua makanya aku ngerti.”
“Ngalamin itu semua? Ngalamin apa?”
“Dulu aku pernah masuk ke sebuah benda elektronik. Dari awal aku emang ngerasa aneh sama benda itu dan benar aja, tubuhku dihisap kedalamnya. Aku ngelewatin sebuah lorong yang gelap sampai aku tiba di sebuah tempat yang aneh.”
“Tapi, kamu berhasil ada disini lagi , kan? Kasih tau aku gimana caranya!” tanpa sadar akupun mulai mempercayai apa yang sarah katakan.
“Itu sebuah keajaiban.”
Aku menopang keningku diatas meja makan. Merasa ini semua benar-benar aneh. Diluar logika.
“Aku yakin, Dika cukup pintar buat ngehadepin ini semua. Dia pasti bisa pulang.”
Aku menoleh ke arahnya,“ Tapi , sar! Dia tadi malam tidur dimana? Dia udah makan atau belum? Aku takut…” Ucapku dengan suara yang mulai bergetar.
“Dia… dia udah terlalu kurus… dia… pasti lapar… kedinginan…” Aku berbicara tersendat-sendat. Gigiku terasa bergemelatuk.
“Tapi, sisi positifnya… dia jadi lebih terkenal, Fa. Liat sekarang, banyak tv nge-beritain dia.”
“sempet-sempetnya kamu mikir kayak gitu, Sar! Keterlaluan!”
Ditengah-tengah suara hentakan music korea itu, aku masih bisa mendengar suara pintu yang di ketuk. Aku dan sarah saling menatap. Ia mengangguk meyakinkanku.
Aku dan sarah kini berada di depan pintu, aku memutar gerendel pintu dan membukanya. Seorang wanita berusia kira-kira 40 tahun berdiri disitu sekarang.
“Ini.. rumahnya actor itu ya..? Dika itu?” Tanyanya.
“iya, ada apa ya bu?”
Tangan ibu itu melambai ke arah sisi sebelah kirinya. Seseorang berjalan mendekat. Ia mengenakan baju sweter berwarna coklat. Aku mengangkat wajahku. DIKA! Itu Dika! Aku langsung menelusup ke pelukannya. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya , bisa kudengar suara degupan jantungnya… dia masih hidup. Aku senang mendengarnya.  Tanganku mencengkram erat sweter lembut itu. Seakan-akan takut kehilangannya lagi. Ku cium aroma khas yang menempel di sweternya. Masih sama. Harum dan hangat.
“Jangan pergi lagi..” Ucapku lirih, suaraku tenggelam diantara pelukan itu.
                                                ***
            Malam itu aku dan Dika duduk berdua di sofa sambil menonton televisi. Sesekali kulirik ia yang duduk di sebelahku. Dengan sweter rajut berwarna abu-abu dan topi rajut yang berwarna biru tua , dia tampak begitu manis.
“Kemarin kamu kemana?” Tanyaku.
“Hmm.” Gumamnya. Dia melirik ke arahku. Lirikan yang teduh dan sangat aku sukai.
“Aku masuk ke computer tablet. Aku  gatau awalnya gimana. Tablet itu jadi sangat ganas dan aku tiba-tiba ada di rumah ibu tadi. ”
“Masuk ke tablet? Itu kan kecil. Kamu cukup masuk kesitu? Sakit nggak?”
“Sakit , sakit banget.”
Aku menatapnya iba. “Kita harus buang tablet itu.” Ucapku.
“hmm… aku udah tau semuanya dari sarah.” Ucapku lagi.
“Tentang apa?” tanyanya.
“Semuanya, tentang kita.”
Matanya membesar,  tersirat malu di mata beningnya itu.
“Dika,” Ucapku, pelan.
“Apa?”
Aku menatap lurus ke matanya.
 “Bolehkah aku mencintaimu meskipun itu terlambat? Bolehkah aku merasa cemburu walaupun itu pada lawan mainmu? Bolehkah aku merasa takut kehilanganmu? Bolehkah aku menyukai apa yang kamu sukai? Dan bolehkah gadis berponi tebal ini menjadi milikmu seutuhnya?”
Aku melihatnya tersenyum. Matanya berbinar bahagia, itulah yang paling aku suka. Tidak peduli berapa jerawat yang tumbuh di pipinya. Juga betapa berbedanya warna kulit kami. Tapi itulah cinta, tak memandang itu semua kalau hati bicara lain.
“Boleh… fa, boleh. Apapun yang kamu mau dari aku.”
Aku mendekatkan keningku padanya dan berkata, “Ini.”
Namun ia tak mengerti apa yang aku maksud. “Apa?” tanyanya.
“Ini, pengganti kejadian pagi-pagi waktu itu. kamu masih inget, kan?” Ucapku. Namun ia masih terdiam.  Aku  mengangkat wajah, melihatnya mengusap mata.
“Kenapa?” Tanyaku, “Kamu nangis?”
“Aku cuma nggak nyangka, ternyata semua ini terjadi juga, fa. Disaat kita udah bisa mencintai satu sama lain.”
 “Dika,aku mau minta satu hal lagi. Mau kan kamu tetap ngeliat aku dengan tatapan teduh kamu itu? Dengan cara kamu natap aku dan semua kerlingan yang membuat aku jatuh cinta.”
“Mata aku nggak seindah yang kamu pikiran, Fa. Liat.. mata aku sekarang berkantung.”
 “Engga dik, ini bukan soal kantung mata atau semacamnya. Tapi ini tentang sesuatu yang ada didalam mata kamu. Yang nggak bisa aku ungkapin pake kata-kata. ”
Malam itu aku merasa jadi wanita paling beruntung di dunia. Bersama Dika, actor yang sebentar lagi akan terkenal. Walaupun wajahnya tidak setampan actor lain, tapi aku percaya ia akan memiliki banyak penggemar. Mungkin para remaja akan menyukai seorang actor yang tampan untuk pertama kali, tapi percayalah selebihnya mereka akan lebih menyukai artis berwajah manis seperti suamiku ini… Dika .

Bandung, 22.19 3-07-2012

bolehkah... (part 3)


Pagi itu aku melihat Dika sudah tidak ada di ruang tamu. Mobilnyapun tak kulihat di garasi. Sepertinya ia sudah pergi ke lokasi syuting. Aku memandangi sofa tempatnya biasa tidur. Ku coba duduk dan merasakan sofa ini. Aku menyentuhnya pelan. Membayangkan Dika menghabiskan malamnya di tempat ini. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia menerimanya .
Tanganku menyentuh sebuah benda. Sepertinya sebuah ponsel. Ah benar saja ini ponsel Dika. Aku tekan tombolnya dan nampak wallpaper ponsel itu. Foto aku yang sedang menghadap ke pinggir. Aku yakin Dika mengambil foto itu tanpa sepengetahuanku. Konyol sekali.

Aku masih menatap ponsel itu yang kini mengeluarkan suara lagu. Di layarnya tertulis “pak sutradara memanggil” keningku berkerut samar. Sejenak aku berfikir untuk menerimanya atau membiarkannya. Namun kuputuskan untuk menerimanya , siapa tahu ada hal penting.
“Hallo, Dika?  Masih dimana kamu?” Tanya suara di seberang sana begitu aku menempelkan ponsel di telingaku.
“Maaf, saya rifa, istrinya Dika. Dikanya udah pergi. Ponselnya ketinggalan.”
“Rifa? Tapi dia belum ada disini. Kira-kira dia kemana dulu ya?” Aku kembali berkerut samar, dia belum tiba di lokasi syuting? Yang benar saja?! Setahuku dia bukan tipe orang yang mampir sana-sini. Ia pasti langsung menuju lokasi syuting.
“Tapi pak, Dika bukan tipe orang kayak gitu. Dia pasti langsung ke lokasi syuting , pak. ”
“Kru saya akan coba menyusuri jalan. Siapa tau mobil Dika mogok.”
“Ah iya,pak. Ide bagus”

bolehkah... (part 2)


Hari terus bergulir. Disaat matahari masih menggeliat manja, kuputuskan untuk pergi menyusulnya ke lokasi syuting.
Matahari yang mulai meninggi menemaniku dan motorku melewati jalanan yang lengang. Panasnya mulai terasa membakar kulitku yang tipis. Aku terkadang berfikir, kenapa orang-orang begitu sering membicarakan matahari? Terkadang mengeluh kepadanya dan memakinya. Sementara mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi disana… di matahari. 
Aku kembali tersadar  ketika motorku melewati sebuah polisi tidur dengan keras. Tujuanku sudah dekat

Bolehkah... (part 1)

Bolehkah... (part 1)



Menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak aku cintai. Dia berkulit coklat , tidak terlalu putih juga tidak terlalu hitam. Di sekitar pipinya tumbuh jerawat berukuran besar . Alisnya menyerupai garis lurus tanpa lengkungan dengan panjang tak melebihi sudut matanya , alis yang pendek. Hidungnya berbentuk segitiga bila aku melihatnya dari depan, namun cukup mancung bila aku melihatnya dari samping. Tubuhnya tipis , sama sekali tidak berotot . Dengan teganya aku berfikir bahwa ia tak akan bisa melindungiku dengan postur tubuhnya yang seperti itu . Namun satu yang membuatku merasa benar ketika ada di sisinya yaitu ia memiliki mata dengan bagian hitam yang besar . Warnanya yang bening memaksaku berfikir bahwa itu adalah air yang terkumpul dengan indah di matanya. Seperti embun di pucuk dedaunan, menyegarkan juga membuatku damai.

Mata itu menatapku dengan polosnya diiringi sapuan bulu matanya yang bergerak sendu. Kerlingan yang membuatku memandanngnya lebih lama. Mata yang seketika melebar ketika ia tidak dapat mendengar ucapanku dengan baik. Disertai alisnya yang berkerut samar, ia berkata, “Apa?” Nadanya sama sekali bukan nada marah, ia hanya meminta kejelasan atas perkataan ku. Mata itu melebar reflex, menampilkan sisi putih diatas kedua lingkaran hitam besar.
Mata hitamnya yang pekat juga mata putihnya yang benar-benar putih. Aku tidak bisa menahan senyum ketika melihat sepasang mata itu terpejam di sampingku. Bulu matanya seakan menjadi tirai di balik keduanya. Yang menutupi juga melindungi.
Aku kembali meliriknya yang terbaring di sampingku , poninya acak-acakkan, hembusan nafas keluar teratur dari hidungnya. Ku dekatkan wajahku menuju wajah tirus itu sehingga aku dapat merasakan hembusannya menerpa wajahku, segar . Aku mengedip lambat.
Ku amati wajah itu, sebenarnya ia tidak seburuk yang ku pikirkan. Wajah polosnya Nampak tak berdosa ketika terpejam. Seketika aku merasa bersalah karena perlakuan tidak adil kepadanya. melihatnya seperti ini membuatku mengasihaninya.  
Aku menopang daguku dengan dua tanganku yang siku-sikunya menancap kasur ini. Ku usap poni itu perlahan agar tak menutupi matanya. Jarang sekali ini terjadi, biasanya dia tidur di ruang tamu.
                                                            ***
Kami pernah berjanji akan belajar mencintai satu sama lain , namun pada kenyataannya kami seperti orang asing yang hidup satu rumah. Berbicara seperlunya , menatap satu sama lain dan kembali melanjutkan sarapan dengan canggung. Yang terdengar pagi itu hanyalah suara sendok serta garpu yang saling beradu dengan piring.
“Aku janji , aku bakal belajar untuk cinta sama kamu. Aku bakal berusaha lagi, Fa.” Ucapnya memecah keheningan.
“Kalau nggak  bisa, nggak usah di paksa .” Timpalku.
Ku lihat Dika yang duduk di hadapanku. Kedua tangannya menggenggam sendok dan garpu dengan kuat. Namun pandangannya kosong entah kemana. Kuhentikan gerak tanganku yang tengah menyendok nasi goreng. Aku menatapnya lebih dalam. Seketika ia seperti tersadar , pandangannya kembali focus. Mata kami bertemu. Aku tersenyum hambar kepadanya dan ia balas tersenyum simpul.
Sarapan kami telah selesai. Kini kami berdiri di depan rumah , saling berhadapan satu sama lain.   Aku memundurkan kepalaku dan melihat lurus ke arah lehernya yang sejajar dengan mataku. Kami hanya berjarak beberapa senti dan dengan senonoh dia mendekatkan mulutnya ke arah dahiku, namun aku menepis. Aku belum siap.
Aku mematung melihat jakunnya yang bergerak naik turun mungkin karena ia menelan ludah.
“Maaf..” Ucapku, lirih.
Kuantar dia pergi sampai pagar rumah . Dia berlalu dengan mobil hitam itu. Tangan kanannya yang tak memegang stir melambai ke arahku. Ia tersenyum sampai aku dapat melihat deretan giginya yang putih. Aku memandanginya tidak begitu antusias , kulambaikan tangan dan membalas senyumnya.
Dia pergi mengejar mimpinya menjadi actor , terkadang aku merendahkannya . Mana ada aktor seperti dia ? Dia bahkan tak setampan actor yang biasa aku lihat di televisi. Tapi , biarlah dia bermimpi sesukanya , anggaplah ini balasan dari mimpinya ‘menikah dengan wanita idaman’ yang gagal menjadi kenyataan.
                                                            ***
Aku merasa mata itu bukan alasan yang kuat untuk terus bersamanya.  Mata hitam bening ternyata tak cukup. Aku perlu alasan lain yang membuat kami pantas terus bersama. Dan apa pula alasan sehingga aku harus mencintainya? Setahuku cinta itu tak perlu alasan. Tapi mengapa kasus ini berbeda? Aku seolah mencari-cari semua alasan itu. Aku mencari-cari sisi positif yang ada dalam diri Dika.
Aku kembali mengingat hal apa yang sering Dika lakukan. Hmm..seingatku dia suka mendengarkan lagu korea yang cukup menghentak. Lagunya terdengar pantas untuk menjadi lagu di diskotik. Ia selalu mendengarkan lagu itu di mobil, di ruang tengah dan terkadang ia dengar dari earphone-nya ketika kami sedang belanja keperluan di mall.
Dika juga suka mendatangi bagian boneka-boneka di mall. Kulihat matanya menyapu seluruh rak boneka. Ia tersenyum tipis. Tangannya menyentuh boneka lembut itu sekilas. Kemudian kami pulang dengan membawa boneka baru koleksinya. Lelaki yang aneh.
Di ruang tengah aku sering melihatnya memainkan computer tablet dan menyaksikan video music dari girl band korea kesukaannya. Ketika aku duduk disampingnya , ia menoleh ke arahku sekilas.
“Wanita idamanku yang kayak gini , fa.” Ucapnya seraya menunjuk seorang wanita di dalam computer tablet.
“Hmm…” Gumamku, sambil mengangguk.
“Matanya sipit ya? Aku suka. Matanya kayak tenggelam di antara pipinya yang tembem itu. Ooohh park bom!!” Ujarnya dengan nada memuja.
Ketika itu aku tersadar bahwa aku adalah perusak mimpinya. Aku sama sekali bukan wanita idamannya. Aku merasa ingin menggantikan posisiku dengan wanita yang lebih pantas untuknya. Wanita yang lebih bisa mencintainya.
Lama-lama kepalaku pening memikirkan hal ini.  Mengingat kejadian tempo hari hanya membuatku semakin merasa bersalah.

****


Malam itu Dika pulang dengan wajah sumringah , kupikir ia baru saja mendapat jekpot. Dia menghampiriku yang sedang menyiapkan hidangan makan malam.

“Rifa!!!” Teriaknya.

Aku kaget melihatnya mengguncang tubuhku. Aku memundurkan dan memiringkan kepalaku untuk menghindari kapalanya yang semakin mendekat. Sudah seperti kepala ayam saja.

“Apa?!” Tanyaku dengan kening berkerut.
“Aku dapat peran, fa! Aku bakal main film!!! ”
“HAH?” Tanpa bisa kutahan , kakiku melompat-lompat kegirangan. Melihatnya senang seolah membuat aku merasa senang juga.
Kami berpegangan tangan membuat sebuah lingkaran kecil. Di pinggir meja makan itu kami melompat-lompat dan berputar.
“Ahahaha..!!!” tawa kami pecah memenuhi setiap sudut ruangan ini. Langit-langitnya terasa penuh dengan kebahagiaan. Aku merasa waktu seperti berhenti sebentar lalu hanyalah kami berdua orang paling bahagia.
Aku belum pernah melihat ia tertawa selepas ini. Dengan mulut terbuka lebar dan pandangan mengarah ke langit-langit.
“Hahahah..!!!” 


bersambung....

Tuesday, June 26, 2012

(fanfict) dangerous smile



hello aku @peacereva punya fanfict buat fanadicky , coba bayangin tokoh 'yefani' disini adalah kak aelke mariska yaaa... tapi terserah sih . sebebas imajinasi kalian aja. happy reading^^



Surat – surat  itu aku simpan dengan sederhana di kaleng bekas biscuit. Amplopnya berwarna merah jambu, lembut dan terasa halus bila aku menyentuhnya. Semua itu adalah surat tanpa perangko yang tak tersampaikan. Surat-surat yang tidak pernah aku kirimkan kepada pemiliknya.  Mungkin suatu saat dia akan membacanya, tapi ketika aku sudah pergi dari dunia ini. Entah kapan.
Malam ini aku telah membuat satu surat baru untuknya yang aku yakini akan membuat kaleng biscuitku semakin penuh dan susah ditutup. Tapi aku suka ketika mendengar decitan kaleng berkarat itu. Suaranya seolah memberitahuku agar berhenti menulis surat. Apakah kaleng berkarat itu juga mengerti apa yang aku rasakan? Meskipun ia berkarat namun ia beruntung telah menemukan pasangan sejatinya yaitu tutup kaleng yang sama-sama berbentuk bundar dan ukuran yang serasi . Pasangan yang sudah Tuhan takdirkan untuknya karena sebagus , semewah atau secemerlang apapun tutup kaleng yang lain tak akan bisa menjadi pasangannya karena ukuran yang tak sesuai.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan kembali membaca surat  yang baru saja aku selesaikan.


Dear you…
Si pemilik dangerous smile… Hari ini aku kembali melihatmu setelah dua bulan kamu pergi meninggalkan rumah. Aku kembali melihat senyuman itu di bibirmu… Senyuman yang selalu kau sunggingkan di manapun dan kepada siapapun… Hari ini kamu terlihat lebih kurus.. Aku mengerti , mungkin kamu terlalu kelelahan karena pekerjaan barumu itu…
hw
Setiap kali aku melihatmu di layar kaca , sungguh aku masih belum percaya bahwa itu adalah kamu… Dicky  Prasetya, kakakku . kamu yang dulu selalu bermain bersamaku , sekarang telah menjelma menjadi seorang lelaki yang digilai para remaja wanita. Kamu menari dan menyanyi bersama boyband-mu yang diberi nama ‘smash’. Aku senang itu terjadi, karena dengan begitu bukan aku saja yang menjadi korban ‘dangerous smile’-mu.
Kamu yang paling bersinar diantara yang lain.. kamu bintang diantara bintang –bintang itu.. Yang paling indah.. Yang paling berbahaya..
Aku sangat senang dapat melihatmu di rumah ini.. Teman-temanku bilang bahwa aku beruntung bisa mempunyai kakak seperti kamu.. Namun aku tidak merasa demikian. Aku justru merasa terjebak dalam keadaan yang seharusnya tak aku tempati. Seharusnya aku tidak ada disini, di keluarga ini . Aku terkadang berharap terlahir di keluarga lain agar aku tak usah menjadi adikmu. Mungkin menjadi wanita lain atau menjadi fans-mu.. Semuanya akan menjadi lebih wajar daripada ini.
Kehidupan yang lain… Another me . Another you..

Ku lipat dan ku masukan surat itu ke dalam amplop berwarna biru muda. Cantik sekali. Namun tetap saja berakhir di kaleng biscuit di laci meja belajarku. 
                                                            ***
Aku menghampiri Kak Dicky di balkon. Angin berhembus cukup kencang sore ini.  Kini aku berdiri disampingnya dan menatap lurus ke depan seperti apa yang  ia lakukan, menikmati pemandangan gunung di sore hari.

“Indah ya.” Suara itu kambali terdengar di telingaku.

“Hmm.” Gumamku.

Aku bisa merasakan angin menerpa mukaku dan menggoyangkan rambut ku yang tidak terlalu panjang. Sesekali mataku memincing menahan debu yang tertiup angin.

“Inilah alasan mengapa aku meminta ayah untuk membangun rumah menghadap ke gunung  dan juga alasan mengapa aku meminta jendela persegi panjang di kamarku tanpa disertai tirai. ” ungkap Kak Dicky. Ku lirik dia sekilas. Poninya terusap ke belakang. Benar-benar cool…

“Kamu tau kenapa aku meminta jendela tanpa tirai?” lanjutnya.

“Kenapa?”

“Jendela itu seperti sebuah bingkai dan gunung ini adalah lukisannya. Lukisan yang telah Tuhan berikan gratis untuk kita.”

Aku tersenyum kecil. Kak Dicky memang mempunyai selera seni yang berbeda daripada yang lain. Ke-khassannya itu yang selalu berhasil membuatku rindu.
Kami masih berdiri tanpa memandang satu sama lain. Kami terlalu sibuk menikmati pemandangan di hadapan kami. Sinar senja itu memenuhi langit . Oranye , aku lebih suka menyebutnya oranye daripada jingga. Karena jingga terlalu menyakitkan untuk aku sebut. Jingga , kata itu seperti kata perpisahan antara siang dan malam. Perpisahan yang memberikan kenangan buruk. Tapi langit itu berwarna oranye , teduh , damai , ceria.

“Terkadang aku merasa takut tidak pernah melihat pemandangan ini lagi.” Ucap Kak Dicky.

“Aku juga takut tidak bisa kembali pulang ke rumah ini.” Sambungnya.

Pulang ke rumah sepertinya menjadi hal yang paling kakak rindukan untuk akhir-akhir ini. Karir yang menanjak memaksanya untuk jauh dari rumah. Dua bulan kemarin ia dan boybandnya disibukkan oleh promosi di luar kota dan luar negeri. Dia memang punya nasib yang baik. Dia terkenal , tampan ,digilai para remaja.  Nama dan fotonya pun terpampang dimana-mana.

“Kamu takut Yefa ?” Tanya Kak Dicky tiba-tiba.

Mataku mengerjap kaget. “Apa yang kamu takutkan untuk saat ini ?” Tanyanya lagi.
Hening. Begitu hening sampai yang terdengar hanyalah suara angin. Kedinginan itu menjalar dari kepalaku. Menyebar begitu cepat ke seluruh tubuh ringkihku. Kurapatkan jaket rajut berwarna coklat tua yang aku kenakan. Jaket yang berlengan panjang sampai tanganku tertutup lengan jaket ini, yang terlihat hanyalah ujung-ujung jariku.

“Saat ini yang aku takutkan adalah kakak pergi dan melupakan aku. Terkadang aku merasa jauh dari kakak.” Ujarku , berusaha tak terdengar aneh.

Aku bisa merasakan pundakku  diputar dengan lembut. Kini aku berhadapan dengan Kak Dicky. Kepalaku sedikit mendongkak melihat wajahnya. Mata besar itu masih berwarna hitam bening. Wajah teduh itu kembali berada di hadapanku. Ia tersenyum , membuatku merasa aman dan damai. Dua tangannya menyentuh pipiku yang dingin. Sentuhan itu menyebarkan kehangatan yang pelan-pelan menjalar menuju pipiku. Tangan hangatnya yang halus masih seperti dulu. Benar-benar lembut tak berkeringat dan tentu saja wangi.

Pelan-pelan aku melihatnya mulai berbicara, “Kamu adikku dan selamanya akan begitu.” Kata-kata itu membuatku tenang karena dia  mengucapkan dengan cara yang sangat aku suka. Namun apabila dipikir lebih lanjut , sebenarnya aku benci kata-kata itu. Kenapa aku harus menjadi adiknya? Hanya adik?
Pipiku mulai terlepas dari sentuhan itu. Aku melihatnya berlutut di depanku dan berkata, “Yefanni Chan, maukah kamu menjadi adikku untuk selamanya?” Tanya Kak Dicky layaknya seorang lelaki yang sedang mengutarakan perasaan.
Aku tersenyum melihatnya seperti itu. Benar-benar manis seperti permen. Aku bisa merasakan mata sipitku semakin mengecil ketika aku tersenyum.  Aku juga melihat Kak Dicky tersenyum ,sepertinya dia senang melihat mataku yang semakin mengecil. Aku mengangguk dan mengangkat badan Kak Dicky agar ia segera berdiri.

“Tak perlu takut lagi ya , Yefa.” Ujarnya seraya merangkulku.

Aku menghirup udara dengan keras seolah itu akan memenuhi paru-paruku dalam sekali helaan. Aku berusaha sekuat tenagaku namun yang aku rasa hanyalah nyeri, sesak. Akan tetapi rangkulan itu benar-benar mempengaruhi pikiranku. Sesesak apapun namun aku tetap merasa nyaman dan hangat berada di dalam rangkulan Kak Dicky. Oksigen itu masuk ke rongga hidungku dengan sendirinya.  Aku tidak mau membuatnya khawatir. Aku merasa terlalu banyak membuatnya kerepotan. Jadi untuk kali ini biarkan aku menanggungnya sendirian. Aku pasti bisa mengatasi sesak ini sendiri.

                                                                        ***
Ada yang berbeda dari makam malam kali ini. Ayah dan ibu pergi menghadiri undangan pernikahan rekan kerjanya.  Jadi hanyalah ada aku , Kak Dicky dan seorang wanita asing di meja makan.

“Kakak cantik ini namanya Cessy .” ujar Kak Dicky.
Aku melihat wajah Kak Cessy sekilas. Dia memang cantik.

“Cessy, ini adikku namanya Yefanni.”  Ujar Kak Dicky kepada Kak Cessy.  Kak Cessy melihatku dan tersenyum. Dia kemudian memandang Kak Dicky dan aku  secara bergantian lalu kembali  tersenyum lebih lebar sampai aku bisa melihat deretan behel di giginya.

“Kalian… ”Ucapnya sambil menggeleng tak percaya.

“Yefanni matanya sipit sekali sementara Dicky  matanya besar. Kenapa bisa begitu ya?” Tanyanya sambil memiringkan kepala.
Aku tersentak. Memang sepantasnya Kak Cessy menanyakan hal itu, justru aneh apabila ia tidak menyadari perbedaan yang mencolok antara aku dan Kak Dicky. Aku melihat Kak Dicky  yang ada di sampingku seakan-akan berdiskusi melalui tatapan mata tentang siapa yang akan menjelaskan perkara ini. Bisa ku dengar Kak Dicky menghembuskan nafasnya dan mulai berbicara pada Kak Cessy yang duduk berhadapan dengan kami. “Sebenarnya kita bukan saudara kandung.”
Aku melihat mata Kak Cessy terbelalak dan mulutnya sedikit menganga. “Oh.. ehm eee.. maaf ya?” Ucapnya.

“Oke. Wajar kamu menanyakan itu. Semua orang yang melihat kami pasti menanyakan itu.” Ujar Kak Dicky.

Aku sadar , aku dan Kak Dicky memang sama sekali tidak mirip, mungkin kesamaan diantara kami hanyalah kulit kami yang putih dan rambut yang lurus.

“Makan malam kali ini aku memasak sushi saja. Maaf  kalau ini tidak sesuai dengan selera Kak Cessy. ” Ucapku.

“Salah Kak Dicky juga tidak memberitahuku kalau kita akan kedatangan tamu.”

“Ah.. sebenarnya tidak usah repot-repot begini. Maaf ya Dicky  , Yefanni. ” Ucap Kak Cessy  dengan mengangkat kedua tangannya dan menganggukan kepala berkali-kali.

Makan malampun dimulai. Aku bisa melihat Kak Cessy kesulitan menggunakan sumpit. Aku tersenyum melihatnya.  Padahal menyumpit sushi itu mudah menurutku , bentuknya tidak terlalu kecil maupun terlalu licin. Tapi mengapa Kak Cessy begitu kesulitan? Apa jangan –jangan ia hanya ingin menarik perhatian Kak Dicky saja?

“Ah, sulit sekali rupanya.” Desahnya seraya mengetuk-ngetuk sumpit pada piring. Sementara itu Kak Dicky menjulurkan tangan kanannya yang telah menyumpit sushi.

“Aaaa.. buka mulutmu.” Perintah Kak Dicky kepada Kak Cessy. Mulut Kak Cessy terbuka dan melahap suapan sushi dari Kak Dicky. Aku tertegun melihatnya, Kak Cessy tersenyum dengan mulutnya yang dipenuhi sushi. Sementara itu Kak Dicky  tertawa dengan renyah. Aku meneruskan menyumpit  sushi-ku dengan agak canggung. Memasukkannya ke mulut  dengan buru-buru. Aku menyumpit lagi tapi tak berhasil karena aku terlalu gugup.

       30 menit berlalu namun aku  masih belum bisa mengetahui status wanita yang Kak Dicky ajak makan malam . Kak Cessy itu siapanya Kak Dicky? Temannya? Se-special itu kah Kak Cessy sampai Kak Dicky rela repot-repot mengajaknya makan malam bersama.

“Ternyata penyakit ini mengantarkan aku kepada jodohku.” Ucap Kak Dicky lalu menyesap teh hijaunya.

“Kalau dulu aku tidak sakit gigi , mungkin aku tidak akan bertemu dengan kamu, Cessy..”
Oh jadi mereka… Semuanya terasa semakin jelas untukku, rangkaian pertanyaan yang bercabang di otakku kini telah terjawab.

“Jadi.. dulu kita bertemu di saat mengantri di dokter gigi. Pada awalnya hanya percakapan biasa namun akhirnya kita bertukar nomor ponsel. Hahaha , Lucu sekali ya.” Ucap Kak Dicky lagi.

“Kalau aku tidak memasang behel , mungkin aku juga tidak akan mengenalmu.” Timpal Kak Cessy.
Aku mengerti, jadi mereka bertemu di dokter gigi , sebelum Kak Dicky terkenal . Saling bercakap satu sama lain dan akhirnya… saling jatuh cinta?
Aku berusaha bertingkah senormal mungkin. Menenggak teh dengan normal , tersenyum kepada mereka berdua seakan-akan aku merestui hubungan mereka.

“Aku ke kamar ya? Kalian silahkan saja disini atau  ehmm kemana pun kalian mau.” Ucapku, pamit. Mereka mengangguk.

“Tunggu!”
Aku menoleh dan melihat Kak Dicky menjulurkan secangkir teh untukku. “Minum ini, malam ini sangat dingin. Semoga secangkir teh bisa menghangatkanmu.”

“Tapi aku sudah meminum satu cangkir tadi.”

“Untuk di kamarmu.” Aku menghembuskan nafas pelan, Kak Dicky memang perhatian walaupun kini di depannya ada kekasihnya.

“Terimalah..” Rengeknya. Baiklah , aku menerima teh itu, “Terimakasih , kak.”
Aku jadi berfikir, apa mungkin Kak Dicky takut aku mati kedinginan?
Aku berpaling dan segera memasuki kamarku. Aku menutup pintu dan bersandar di belakangnya. Tubuhku pelan-pelan merosot, terduduk di lantai yang dingin dan berkilau ini. Aku merasakan nafasku bergetar . Aku menunduk  , menggenggam cangkir teh dengan dua tanganku. Menatap asap yang mengepul diatasnya. Dengan agak bergetar aku menyesap teh itu. Kehangatan mulai menjalari tanganku namun kedinginan lantai ini terasa lebih kuat. Aku benci pada diriku yang tetap mencintai Kak Dicky. Kenapa aku harus sakit hati melihatnya dengan wanita lain? Bukankah itu selayaknya terjadi? Ada yang salah pada diriku. Aku meletakkan cangkir itu di lantai. Kuputuskan untuk menekuk lututku dan memeluknya erat-erat. Yang aku pahami adalah ternyata aku masih takut kehilangan Kak Dicky…

                                                            ***

Tapi waktuku bukanlah malam itu. Sekarang aku masih hidup dan hendak kembali menulis surat tak tersampaikan. Di temani suasana malam yang hening dan dentingan jam yang dapat aku dengar.


Dear you…
Aku sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersamamu.. Kamu juga mampu melindungiku dari segala kemungkinan yang terjadi… kamu selamatkan aku dari kedinginan yang pelan-pelan menusuk tulang rusukku.. Menyerang tubuhku yang lemah… Dari wajahmu aku bisa melihat ketakutan itu.. kekhawatiran yang biasa aku lihat bila kedinginan itu kembali muncul menyerangku… sesak dan dingin adalah kengerian yang tubuhku harus perangi.  Apa kamu takut aku pergi begitu cepat..?
Namun kadang aku berfikir bahwa orang yang paling melindungiku justru adalah orang yang membuatku begitu sakit…
Kak Cessy… Dia wanita yang sangat beruntung… Aku yakin penggemarmu juga akan mengatakan hal yang sama.. Dia memang beruntung…
Suatu saat kamu akan menikahinya… ya.. Memang itulah yang harus kamu lakukan.. menikah dengan wanita yang kuat dan sehat… Agar anakmu juga sama sepertinya..
Aku semakin merasa bahwa waktu untuk kamu membaca surat-surat ini semakin dekat.. Setidaknya itulah yang hatiku katakan padaku… Sebelum aku kehilangan waktu dan kesempatan , maka sekarang aku akan mengungkapkan bahwa aku mencintaimu.. Terserah kamu mau menerjemahkan cinta yang seperti apa.. cinta sebagai saudara atau apa saja… Tapi kurasa perasaan ini adalah perasaan cinta antara sepasang kekasih…
Sekali lagi terima kasih untuk semuanya… Terima kasih kak..


                                                                        ***

Hari ini Kak Dicky konser di salah satu mall di kota kami. Aku ingin sekali bisa pergi kesana . Aku ingin melihatnya tampil di panggung secara langsung dan bukan hanya lewat layar kaca.
Aku melangkahkan kaki di dalam mall itu. Mataku menyapu sekitar dan kutemukan panggung di tengah-tengah mall. Itu pasti panggung untuk boyband-nya Kak Dicky. Langsung saja kulangkahkan kaki mendekati panggung tersebut. Masih sepi, tapi aku sengaja diam disini agar bisa menonton paling depan.
Lama kelamaan penonton berdatangan. Dan disaat penonton sudah semakin banyak , boyband smash-pun tampil. Sulit ku percaya apa yang sedang aku saksikan. 7 orang pemuda tampan bersuara merdu tengah menari di hadapan kami , begitu dekat. Aku dapat mendengar suara jeritan para remaja yang cukup membuatku sakit telinga. Keadaan semakin parah ketika ada personil yang mendekatkan dirinya ke arah penonton. Badanku terdesak , terdorong , terhimpit, sakit.. sakit sekali..  penonton itu berusaha agar bisa meraih tangan idolanya. Sementara aku merasakan sakitnya berada di keramaian seperti ini. Aku merasakan rambut coklatku  basah oleh keringat dingin. Kucoba menarik nafas namun yang kudapat hanyalah kesesakkan… sakit… aku tak tahu wajahku seperti apa sekarang.. Apakah menyeramkan seperti mayat hidup?
 Ku ikuti arus yang menyeretku , kubiarkan arus itu membawa badanku entah ke kiri atau ke kanan. Pandanganku kabur sampai kurasakan orang di balik pagar besi menarik tubuhku dari keramaian. Menyelamatkan aku dari semua himpitan. Orang itu mungkin security.
Aku digendongnya dan ia berjalan meniggalkan keramaian panggung entah kemana. Namun telingaku masih dapat mendengar lagu-lagu boyband Kak Dicky. Mereka tetap bernyanyi. Dan dengan mata yang sedikit terbuka aku melihat Kak Dicky sekilas. Apakah dia juga melihatku..? Namun yang kurasa security itu berjalan semakin cepat hingga tibalah aku di sebuah ruangan. Aku dibaringkan di sebuah sofa yang panjang. Aku dengar orang–orang berteriak  “Oksigen! Oksigen!”
Dengan lemas aku melihat langit-langit ruangan ini yang berwarna putih gading. Tangan-tanganku masih bergetar , kakiku terasa dingin dan kesemutan. Tiba-tiba kudengar gemuruh seseorang yang menghampiriku dengan terburu-buru.

“Yefa, kamu kenapa sayang?” ujarnya, ketakutan.

“Kak Dicky,”ucapku disertai senyum. “Sakit, kak.”

“Kenapa kamu kesini ? Kakak bisa mengajakmu ke backstage kalau kamu bilang terlebih dulu. Tidak usah ikut berdesakan seperti yang lain.” Ujarnya , dari nadanya aku bisa mengetahui bahwa ia khawatir.

“Aku ingin diperlakukan seperti fans kakak yang lain. Bukan dengan perlakuan istimewa. ” Jawabku.

“Tapi kamu itu berbeda Yefa! Ahhh…. ” Ia memalingkan wajahnya ke arah keramaian dan berteriak 
“Oksigen ! tolong! Oksigen!!!”

“Kak..”
Ia menoleh “Apa?”

“Aku ingin kakak tersenyum.”

Matanya terbelalak , “Keadaan seperti ini kakak tidak bisa tersenyum , Yefa!”

“Aku mohon kak.. Aku ingin liat kakak tersenyum. Sebelum waktuku tiba.”

“Jangan berbicara seperti itu!”

“Kak..”

“Baiklah..”

Detik itu juga aku melihat Kak Dicky memutar bola matanya seolah menahan air mata. Bibirnya mulai tersenyum . kupandangi wajah itu inchi demi inchi tanpa terlewat. Aku memandangnya lekat-lekat seolah tak akan melihatnya untuk waktu yang amat lama. Aku  takut… Aku takut pergi dan melupakan senyuman itu.

“Terimakasih. Kak… di laci meja ada kaleng biscuit, kakak boleh melihat isinya. Tapi ini rahasia diantara kita berdua saja ya? Jangan beritahu orang tua kita.”

Ia hanya mengangguk. Aku mendengar suara teriakan bahwa ambulan sudah ada di depan mall. Dengan cepat Kak Dicky mengendongku. Sepanjang jalan aku dapat mendengar teriakan-teriakan para remaja. Mungkin mereka iri melihat idolanya menggendong seorang gadis. Mereka tidak tahu aku ini hanya adiknya.
Aku dibaringkan di kasur ambulan yang terasa keras. Selang oksigen itu mulai memasuki lubang hidungku. Kubuka mata dan melihat Kak Dicky masih setia disampingku. Ia sesekali mengusap dahiku. Mobil mulai melaju , aku merasakan ketenangan dan kedamaian. Sesak dan dingin mulai menguap dari tubuhku. Kupikir aku tidak akan merasakan semua kesakitan itu lagi. Saat itu juga kurasakan badanku terasa ringan . Aku bagaikan melayang meniggalkan tubuhku yang ringkih. Mata sipit itu kini terpejam untuk selamanya…
                                                                                                ***
Dear you…
Aku tidak pernah menyalahkan pilihan  mama. Ia memilih papa-mu mungkin karena papa-mu tampan dan baik hati.. Aku juga merasa mereka memang cocok…
Aku juga tidak pernah menyalahkan kenapa pernikahan itu harus terjadi…  pernikahan antara papamu dan mamaku . Aku menerima itu semua…
Namun aku yakin di kehidupan yang lain akan ada aku yang lain dan kamu yang lain.. kita bukan lagi adik kakak. Ah iya, kamu sudah membaca semua surat di kaleng itu kan? Bagaimana ? Menurutmu lucu? Apakah kamu tertawa ketika membacanya ? Aku senang kini surat-surat itu telah tersampaikan kepada pemiliknya. Tetaplah menjadi bintang yang paling bersinar ya kak?  karena kini akupun menjadi bintang disana… di langit bersama bintang yang lain…
Kutunggu kehadiranmu disini , kak.


Bandung 13.32 25-06-2012
#fanadicky #fanadickybandung #bandung #dickyprasetyo #dickyprasetya #dicky #cerpen #smash #fanfiction #smashblast #cerita #peacereva #ceritapendek #sad #love #story #boyband #bisma #karisma #yefaniChan