Showing posts with label love story. Show all posts
Showing posts with label love story. Show all posts

Sunday, July 22, 2012

Tempat Sederhana


Kenanglah aku dalam seutas puisi
Jika malam ini aku tiada
Jangan kau mencariku
Jika malam ini aku mati
Kenanglah aku dalam puisi

***
            Aku pernah merasa menjadi wanita paling beruntung sedunia.  Menyenangkan memang ketika lelaki yang kita cintai ternyata mencintai kita juga. Cintaku terbalas! Rasanya benar-benar ajaib, seperti mimpi. Armand bilang , inilah mimpi yang jadi kenyataan. Dia lah orang yang mengabulkan mimpi itu.

Friday, July 13, 2012

love in london (part2)



Baca part satu di sini

Beberapa bulan setelah kejadian itu hubungan antara aku , Darel  dan Edgar masih baik-baik saja walaupun dapat kucium aroma persaingan diantara mereka.
Aku terdiam di maja kerjaku dan memutar-mutar bolpoint. Ternyata begini rasanya ketika bingung menentukan pilihan. Darel lee dan Edgario sama-sama tampan dan punya ciri khas tersendiri. Mereka juga baik. Kenapa aku merasa kisah cintaku seperti sebuah lagu ya? Ah yang benar saja!
Drrt drrt…
Ponsel di meja kerjaku bergetar menandakan satu pesan yang masuk
From: Darel
Bisa ke London bridge?                    
                                          

love in london (part1)



Love in London
Aku memandangi langit-langit apartementku yang berwarna putih tulang. Merenung tentang kejadian yang baru saja aku alami. Tadi siang,  dia datang dan menarik aku menelusup pelukannya. Namun aku tak membalas. Aku memposisikan tanganku di samping tubuhku tanpa ingin sekalipun membalas pelukan itu. kepalaku terangkat menyesuaikan pundaknya yang tinggi.

Thursday, July 5, 2012

bolehkah... (part 4)


Pagi itu aku terdiam di ruang tamu. Membiarkan sebagian mukaku ditimpa cahaya matahari pagi yang menerobos masuk lewat jendela. Aku tidak peduli walaupun itu menyilaukan. Yang kupikirkan adalah Dika. Dimana ia tidur semalam? Dan apakah dia sudah makan ? Suasana rumah begitu sepi tanpa ada lagu korea yang selalu ia putar. Ah, aku merasa mulai gila. Lebih baik aku mulai menyalakan music korea dan mungkin hal itu bisa membuatku merasa bahwa Dika berada di tempat ini, bersamaku.
Tak lama kudengar suara pintu yang diketuk. Aku harap itu seseorang yang bisa membuat diriku lebih berguna. Ku bukakan pintu dan..
“Rifa?”
Kuamati sosok perempuan yang berdiri di hadapanku. Ia tersenyum. “Kamu..” Ujarku seraya berkerut samar.
“Aku sarah, temen Dika di lokasi syuting.”
                                                                        ***
Kami duduk berhadapan di meja makan. Kulihat sarah mengaduk kopi yang telah kubuatkan untuknya.
“Ada apa?” Tanyaku.
“Aku turut prihatin atas hal yang menimpa Dika.” Aku bisa melihat ekspresi wajahnya memang sesuai dengan apa yang ia ucapkan.
“Kamu yang sabar ya..” Ujarnya lagi. Aku bersidekap dan menatap matanya lurus-lurus. Benar apa yang Dika ucapkan, Sarah memang baik dan juga menurutku, dia penuh ketulusan.
“Dika banyak cerita tentang kamu. Tentang pernikahan kalian.”
Mataku melebar seketika. Kaget atas apa yang baru Sarah ucapkan. Apa yang Dika katakan padanya mengenai  aku?
“Hah!?”
Aku melihatnya tersenyum sambil menerawang langit-langit ruangan ini.
“Pernikahan terpaksa diantara kalian berdua. Aku lucu mendengarnya. Ternyata di masa modern seperti ini perjodohan masih berlaku , ya?”
“Bukan! Ini bukan perjodohan biasa! Dan ini semua nggak se-simple yang kamu pikirin, Sar.”
“Tapi Dika nggak cerita itu ke aku.” Ujarnya
Aku senang menerima kenyataan ini. Ternyata Dika tidak membeberkan rahasia ini kepada teman dekatnya sendiri.  Biarlah hanya kami yang tahu bahwa ini bukan perjodohan biasa. Biarlah kami yang memahaminya.
“Lupakan…” Ucapku.
Sarah kembali menerawang langit-langit seperti mengingat-ngingat bagaimana Dika menceritakan hal itu padanya, “Dia bilang, kamu cewe paling tegar dan cantik di matanya. Dia suka cara kamu ngiket rambutmu. Dia suka kening kamu yang indah itu, yang disisi-sisinya terdapat rambut-rambut berukuran pendek dan halus. Kamu cantik dengan poni tebalmu itu. dia paling seneng kalau kamu mengikat poni itu dan membiarkan dia melihat keningmu yang sempit. Dia suka itu semua. Dia juga bilang bahwa kamu adalah cewe dengan poni ter-tebal yang pernah ia temui sepanjang hidupnya.”
Aku merasakan dadaku berdenyut nyeri ketika Sarah mengatakan “Sepanjang hidupnya.” Sekarang saja aku tidak tahu dia ada dimana . Apakah hidupnya hanya sepanjang ini?
“Tapi, Dika pernah bilang ke aku. Kalau cewek idamannya itu park bom bukan aku.” Ucapku.
“Ya… dia juga pernah bilang kayak gitu ke aku. Tapi coba kamu pikir lagi deh. Park bom itu idolanya, dia bilang kalau cintanya ke idola nggak akan pernah bisa disamain dengan cintanya ke istrinya. Antara istri dan idola itu beda, Fa. Itu yang selalu dia bilang ke aku. ”
“Aku juga tau kalau kalian berjanji akan belajar mencintai satu sama lain , kan? Tapi engga buat Dika. Dia bilang bahwa dia nggak perlu belajar mencintai kamu, karena dengan mudah dia mencintai kamu, fa. ”
Aku masih tidak percaya. Semua pertahanan dan benteng di hatiku seolah roboh hanya karena kata-kata sederhana yang Sarah ucapkan. Benteng itu roboh dan menimpaku. Aku merasa sakit. Caranya mengucapkan dengan ketulusan yang membuat semua itu berbeda, aku menjadi percaya bahwa ketulusan mempunyai kekuatan sendiri dibanding sebuah kata-kata bualan yang menjilat.
“Kamu tau nggak? Dia seneng banget waktu kamu dateng ke lokasi syuting. Dia pernah cerita sama aku kalau dia juga ingin seperti yang lain. Di lokasi didatangi oleh seseorang yang dicintai, entah itu keluarga atau pacar. Katanya nggak mungkin kamu dateng ke lokasi syuting. Tapi ternyata kamu dateng. Dia nggak nyangka, dia seneng. Bener-bener seneng.
Terus aku Tanya , bakal dibeliin apa gaji pertamanya itu? Dan dia jawab, dia bakal kasih kamu sesuatu barang. Tapi dia nggak kasih tau aku. Dia Cuma bilang, biarlah ini jadi kejutan dan rahasia diantara kalian. Aku terharu, aku baru nemu cowok kayak dia. Dia orang baik-baik , fa. Dia baik banget. ”
Aku mengangguk. Mataku mulai terasa panas. Tak bisa tertahankan lagi, aku menangis. Sarah pindah duduk menjadi di sebelahku. Aku menoleh melihatnya. Ia membuka kedua tangannya.  Menyodorkan sebuah pelukan. “Orang-orang bilang, pelukan bisa buat kamu lebih nyaman dan merasa terlindungi.” Ucapnya. Tanpa pikir panjang aku pun kini berada di pelukannya. Hanyut dalam suasana. Kubiarkan semua air mata ini membasahi baju Sarah.
                                                            ***
Kini aku merasa baikan. Tapi masih terdiam tanpa ingin memulai pembicaraan.
“Lagu korea?” Tanya sarah seraya menunjuk sumber suara dari ruang tengah.
Aku mengangguk.
“Kenapa? Dika bilang kalau kamu nggak terlalu suka music ini?” Tanya Sarah.
“Nggak apa-apa. Aku cuma ingin suka atas apa yang ia suka. Dan kayaknya sekarang aku mulai suka sama lagu-lagu ini.”
Aku melihatnya mengangguk paham.
“Apa udah ada perkembangan dari pihak ke polisian?” Tanyanya.
“Engga ada.”
“Aku pikir… dia terjebak.” Ucap sarah.
“Maksud kamu?” Jujur, aku sama sekali tidak mengerti apa yang ia katakan.
“Dia terjebak di ruang dan waktu yang berbeda dengan kita. Disuatu tempat , entah dimana. Dia… terjebak di mesin waktu.”
Gila! Ia benar-benar gila! Mana mungkin itu semua terjadi. Ya, aku tahu dia memang tipe orang yang senang bercanda, namun membuat lelucon tentang Dika bukanlah perilaku yang tepat untuk saat ini.
“Kamu gila ?! Hah?! Jangan bercanda!”
“Enggak! Aku sama sekali enggak bercanda, fa. Dia bener-bener terjebak!!! ”
“Aku tau, kamu juga terpukul , Sar. Tapi , aku sebagai istrinya aja nggak sampai berkhayal seperti itu! Kamu berlebihan.” Sahutku dengan nada suara yang semakin meninggi. Benar-benar tak habis pikir .
“Aku nggak lagi berkhayal, fa. Ini serius. Aku pernah ngalamin itu semua makanya aku ngerti.”
“Ngalamin itu semua? Ngalamin apa?”
“Dulu aku pernah masuk ke sebuah benda elektronik. Dari awal aku emang ngerasa aneh sama benda itu dan benar aja, tubuhku dihisap kedalamnya. Aku ngelewatin sebuah lorong yang gelap sampai aku tiba di sebuah tempat yang aneh.”
“Tapi, kamu berhasil ada disini lagi , kan? Kasih tau aku gimana caranya!” tanpa sadar akupun mulai mempercayai apa yang sarah katakan.
“Itu sebuah keajaiban.”
Aku menopang keningku diatas meja makan. Merasa ini semua benar-benar aneh. Diluar logika.
“Aku yakin, Dika cukup pintar buat ngehadepin ini semua. Dia pasti bisa pulang.”
Aku menoleh ke arahnya,“ Tapi , sar! Dia tadi malam tidur dimana? Dia udah makan atau belum? Aku takut…” Ucapku dengan suara yang mulai bergetar.
“Dia… dia udah terlalu kurus… dia… pasti lapar… kedinginan…” Aku berbicara tersendat-sendat. Gigiku terasa bergemelatuk.
“Tapi, sisi positifnya… dia jadi lebih terkenal, Fa. Liat sekarang, banyak tv nge-beritain dia.”
“sempet-sempetnya kamu mikir kayak gitu, Sar! Keterlaluan!”
Ditengah-tengah suara hentakan music korea itu, aku masih bisa mendengar suara pintu yang di ketuk. Aku dan sarah saling menatap. Ia mengangguk meyakinkanku.
Aku dan sarah kini berada di depan pintu, aku memutar gerendel pintu dan membukanya. Seorang wanita berusia kira-kira 40 tahun berdiri disitu sekarang.
“Ini.. rumahnya actor itu ya..? Dika itu?” Tanyanya.
“iya, ada apa ya bu?”
Tangan ibu itu melambai ke arah sisi sebelah kirinya. Seseorang berjalan mendekat. Ia mengenakan baju sweter berwarna coklat. Aku mengangkat wajahku. DIKA! Itu Dika! Aku langsung menelusup ke pelukannya. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya , bisa kudengar suara degupan jantungnya… dia masih hidup. Aku senang mendengarnya.  Tanganku mencengkram erat sweter lembut itu. Seakan-akan takut kehilangannya lagi. Ku cium aroma khas yang menempel di sweternya. Masih sama. Harum dan hangat.
“Jangan pergi lagi..” Ucapku lirih, suaraku tenggelam diantara pelukan itu.
                                                ***
            Malam itu aku dan Dika duduk berdua di sofa sambil menonton televisi. Sesekali kulirik ia yang duduk di sebelahku. Dengan sweter rajut berwarna abu-abu dan topi rajut yang berwarna biru tua , dia tampak begitu manis.
“Kemarin kamu kemana?” Tanyaku.
“Hmm.” Gumamnya. Dia melirik ke arahku. Lirikan yang teduh dan sangat aku sukai.
“Aku masuk ke computer tablet. Aku  gatau awalnya gimana. Tablet itu jadi sangat ganas dan aku tiba-tiba ada di rumah ibu tadi. ”
“Masuk ke tablet? Itu kan kecil. Kamu cukup masuk kesitu? Sakit nggak?”
“Sakit , sakit banget.”
Aku menatapnya iba. “Kita harus buang tablet itu.” Ucapku.
“hmm… aku udah tau semuanya dari sarah.” Ucapku lagi.
“Tentang apa?” tanyanya.
“Semuanya, tentang kita.”
Matanya membesar,  tersirat malu di mata beningnya itu.
“Dika,” Ucapku, pelan.
“Apa?”
Aku menatap lurus ke matanya.
 “Bolehkah aku mencintaimu meskipun itu terlambat? Bolehkah aku merasa cemburu walaupun itu pada lawan mainmu? Bolehkah aku merasa takut kehilanganmu? Bolehkah aku menyukai apa yang kamu sukai? Dan bolehkah gadis berponi tebal ini menjadi milikmu seutuhnya?”
Aku melihatnya tersenyum. Matanya berbinar bahagia, itulah yang paling aku suka. Tidak peduli berapa jerawat yang tumbuh di pipinya. Juga betapa berbedanya warna kulit kami. Tapi itulah cinta, tak memandang itu semua kalau hati bicara lain.
“Boleh… fa, boleh. Apapun yang kamu mau dari aku.”
Aku mendekatkan keningku padanya dan berkata, “Ini.”
Namun ia tak mengerti apa yang aku maksud. “Apa?” tanyanya.
“Ini, pengganti kejadian pagi-pagi waktu itu. kamu masih inget, kan?” Ucapku. Namun ia masih terdiam.  Aku  mengangkat wajah, melihatnya mengusap mata.
“Kenapa?” Tanyaku, “Kamu nangis?”
“Aku cuma nggak nyangka, ternyata semua ini terjadi juga, fa. Disaat kita udah bisa mencintai satu sama lain.”
 “Dika,aku mau minta satu hal lagi. Mau kan kamu tetap ngeliat aku dengan tatapan teduh kamu itu? Dengan cara kamu natap aku dan semua kerlingan yang membuat aku jatuh cinta.”
“Mata aku nggak seindah yang kamu pikiran, Fa. Liat.. mata aku sekarang berkantung.”
 “Engga dik, ini bukan soal kantung mata atau semacamnya. Tapi ini tentang sesuatu yang ada didalam mata kamu. Yang nggak bisa aku ungkapin pake kata-kata. ”
Malam itu aku merasa jadi wanita paling beruntung di dunia. Bersama Dika, actor yang sebentar lagi akan terkenal. Walaupun wajahnya tidak setampan actor lain, tapi aku percaya ia akan memiliki banyak penggemar. Mungkin para remaja akan menyukai seorang actor yang tampan untuk pertama kali, tapi percayalah selebihnya mereka akan lebih menyukai artis berwajah manis seperti suamiku ini… Dika .

Bandung, 22.19 3-07-2012

bolehkah... (part 3)


Pagi itu aku melihat Dika sudah tidak ada di ruang tamu. Mobilnyapun tak kulihat di garasi. Sepertinya ia sudah pergi ke lokasi syuting. Aku memandangi sofa tempatnya biasa tidur. Ku coba duduk dan merasakan sofa ini. Aku menyentuhnya pelan. Membayangkan Dika menghabiskan malamnya di tempat ini. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia menerimanya .
Tanganku menyentuh sebuah benda. Sepertinya sebuah ponsel. Ah benar saja ini ponsel Dika. Aku tekan tombolnya dan nampak wallpaper ponsel itu. Foto aku yang sedang menghadap ke pinggir. Aku yakin Dika mengambil foto itu tanpa sepengetahuanku. Konyol sekali.

Aku masih menatap ponsel itu yang kini mengeluarkan suara lagu. Di layarnya tertulis “pak sutradara memanggil” keningku berkerut samar. Sejenak aku berfikir untuk menerimanya atau membiarkannya. Namun kuputuskan untuk menerimanya , siapa tahu ada hal penting.
“Hallo, Dika?  Masih dimana kamu?” Tanya suara di seberang sana begitu aku menempelkan ponsel di telingaku.
“Maaf, saya rifa, istrinya Dika. Dikanya udah pergi. Ponselnya ketinggalan.”
“Rifa? Tapi dia belum ada disini. Kira-kira dia kemana dulu ya?” Aku kembali berkerut samar, dia belum tiba di lokasi syuting? Yang benar saja?! Setahuku dia bukan tipe orang yang mampir sana-sini. Ia pasti langsung menuju lokasi syuting.
“Tapi pak, Dika bukan tipe orang kayak gitu. Dia pasti langsung ke lokasi syuting , pak. ”
“Kru saya akan coba menyusuri jalan. Siapa tau mobil Dika mogok.”
“Ah iya,pak. Ide bagus”

bolehkah... (part 2)


Hari terus bergulir. Disaat matahari masih menggeliat manja, kuputuskan untuk pergi menyusulnya ke lokasi syuting.
Matahari yang mulai meninggi menemaniku dan motorku melewati jalanan yang lengang. Panasnya mulai terasa membakar kulitku yang tipis. Aku terkadang berfikir, kenapa orang-orang begitu sering membicarakan matahari? Terkadang mengeluh kepadanya dan memakinya. Sementara mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi disana… di matahari. 
Aku kembali tersadar  ketika motorku melewati sebuah polisi tidur dengan keras. Tujuanku sudah dekat

Bolehkah... (part 1)

Bolehkah... (part 1)



Menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak aku cintai. Dia berkulit coklat , tidak terlalu putih juga tidak terlalu hitam. Di sekitar pipinya tumbuh jerawat berukuran besar . Alisnya menyerupai garis lurus tanpa lengkungan dengan panjang tak melebihi sudut matanya , alis yang pendek. Hidungnya berbentuk segitiga bila aku melihatnya dari depan, namun cukup mancung bila aku melihatnya dari samping. Tubuhnya tipis , sama sekali tidak berotot . Dengan teganya aku berfikir bahwa ia tak akan bisa melindungiku dengan postur tubuhnya yang seperti itu . Namun satu yang membuatku merasa benar ketika ada di sisinya yaitu ia memiliki mata dengan bagian hitam yang besar . Warnanya yang bening memaksaku berfikir bahwa itu adalah air yang terkumpul dengan indah di matanya. Seperti embun di pucuk dedaunan, menyegarkan juga membuatku damai.

Mata itu menatapku dengan polosnya diiringi sapuan bulu matanya yang bergerak sendu. Kerlingan yang membuatku memandanngnya lebih lama. Mata yang seketika melebar ketika ia tidak dapat mendengar ucapanku dengan baik. Disertai alisnya yang berkerut samar, ia berkata, “Apa?” Nadanya sama sekali bukan nada marah, ia hanya meminta kejelasan atas perkataan ku. Mata itu melebar reflex, menampilkan sisi putih diatas kedua lingkaran hitam besar.
Mata hitamnya yang pekat juga mata putihnya yang benar-benar putih. Aku tidak bisa menahan senyum ketika melihat sepasang mata itu terpejam di sampingku. Bulu matanya seakan menjadi tirai di balik keduanya. Yang menutupi juga melindungi.
Aku kembali meliriknya yang terbaring di sampingku , poninya acak-acakkan, hembusan nafas keluar teratur dari hidungnya. Ku dekatkan wajahku menuju wajah tirus itu sehingga aku dapat merasakan hembusannya menerpa wajahku, segar . Aku mengedip lambat.
Ku amati wajah itu, sebenarnya ia tidak seburuk yang ku pikirkan. Wajah polosnya Nampak tak berdosa ketika terpejam. Seketika aku merasa bersalah karena perlakuan tidak adil kepadanya. melihatnya seperti ini membuatku mengasihaninya.  
Aku menopang daguku dengan dua tanganku yang siku-sikunya menancap kasur ini. Ku usap poni itu perlahan agar tak menutupi matanya. Jarang sekali ini terjadi, biasanya dia tidur di ruang tamu.
                                                            ***
Kami pernah berjanji akan belajar mencintai satu sama lain , namun pada kenyataannya kami seperti orang asing yang hidup satu rumah. Berbicara seperlunya , menatap satu sama lain dan kembali melanjutkan sarapan dengan canggung. Yang terdengar pagi itu hanyalah suara sendok serta garpu yang saling beradu dengan piring.
“Aku janji , aku bakal belajar untuk cinta sama kamu. Aku bakal berusaha lagi, Fa.” Ucapnya memecah keheningan.
“Kalau nggak  bisa, nggak usah di paksa .” Timpalku.
Ku lihat Dika yang duduk di hadapanku. Kedua tangannya menggenggam sendok dan garpu dengan kuat. Namun pandangannya kosong entah kemana. Kuhentikan gerak tanganku yang tengah menyendok nasi goreng. Aku menatapnya lebih dalam. Seketika ia seperti tersadar , pandangannya kembali focus. Mata kami bertemu. Aku tersenyum hambar kepadanya dan ia balas tersenyum simpul.
Sarapan kami telah selesai. Kini kami berdiri di depan rumah , saling berhadapan satu sama lain.   Aku memundurkan kepalaku dan melihat lurus ke arah lehernya yang sejajar dengan mataku. Kami hanya berjarak beberapa senti dan dengan senonoh dia mendekatkan mulutnya ke arah dahiku, namun aku menepis. Aku belum siap.
Aku mematung melihat jakunnya yang bergerak naik turun mungkin karena ia menelan ludah.
“Maaf..” Ucapku, lirih.
Kuantar dia pergi sampai pagar rumah . Dia berlalu dengan mobil hitam itu. Tangan kanannya yang tak memegang stir melambai ke arahku. Ia tersenyum sampai aku dapat melihat deretan giginya yang putih. Aku memandanginya tidak begitu antusias , kulambaikan tangan dan membalas senyumnya.
Dia pergi mengejar mimpinya menjadi actor , terkadang aku merendahkannya . Mana ada aktor seperti dia ? Dia bahkan tak setampan actor yang biasa aku lihat di televisi. Tapi , biarlah dia bermimpi sesukanya , anggaplah ini balasan dari mimpinya ‘menikah dengan wanita idaman’ yang gagal menjadi kenyataan.
                                                            ***
Aku merasa mata itu bukan alasan yang kuat untuk terus bersamanya.  Mata hitam bening ternyata tak cukup. Aku perlu alasan lain yang membuat kami pantas terus bersama. Dan apa pula alasan sehingga aku harus mencintainya? Setahuku cinta itu tak perlu alasan. Tapi mengapa kasus ini berbeda? Aku seolah mencari-cari semua alasan itu. Aku mencari-cari sisi positif yang ada dalam diri Dika.
Aku kembali mengingat hal apa yang sering Dika lakukan. Hmm..seingatku dia suka mendengarkan lagu korea yang cukup menghentak. Lagunya terdengar pantas untuk menjadi lagu di diskotik. Ia selalu mendengarkan lagu itu di mobil, di ruang tengah dan terkadang ia dengar dari earphone-nya ketika kami sedang belanja keperluan di mall.
Dika juga suka mendatangi bagian boneka-boneka di mall. Kulihat matanya menyapu seluruh rak boneka. Ia tersenyum tipis. Tangannya menyentuh boneka lembut itu sekilas. Kemudian kami pulang dengan membawa boneka baru koleksinya. Lelaki yang aneh.
Di ruang tengah aku sering melihatnya memainkan computer tablet dan menyaksikan video music dari girl band korea kesukaannya. Ketika aku duduk disampingnya , ia menoleh ke arahku sekilas.
“Wanita idamanku yang kayak gini , fa.” Ucapnya seraya menunjuk seorang wanita di dalam computer tablet.
“Hmm…” Gumamku, sambil mengangguk.
“Matanya sipit ya? Aku suka. Matanya kayak tenggelam di antara pipinya yang tembem itu. Ooohh park bom!!” Ujarnya dengan nada memuja.
Ketika itu aku tersadar bahwa aku adalah perusak mimpinya. Aku sama sekali bukan wanita idamannya. Aku merasa ingin menggantikan posisiku dengan wanita yang lebih pantas untuknya. Wanita yang lebih bisa mencintainya.
Lama-lama kepalaku pening memikirkan hal ini.  Mengingat kejadian tempo hari hanya membuatku semakin merasa bersalah.

****


Malam itu Dika pulang dengan wajah sumringah , kupikir ia baru saja mendapat jekpot. Dia menghampiriku yang sedang menyiapkan hidangan makan malam.

“Rifa!!!” Teriaknya.

Aku kaget melihatnya mengguncang tubuhku. Aku memundurkan dan memiringkan kepalaku untuk menghindari kapalanya yang semakin mendekat. Sudah seperti kepala ayam saja.

“Apa?!” Tanyaku dengan kening berkerut.
“Aku dapat peran, fa! Aku bakal main film!!! ”
“HAH?” Tanpa bisa kutahan , kakiku melompat-lompat kegirangan. Melihatnya senang seolah membuat aku merasa senang juga.
Kami berpegangan tangan membuat sebuah lingkaran kecil. Di pinggir meja makan itu kami melompat-lompat dan berputar.
“Ahahaha..!!!” tawa kami pecah memenuhi setiap sudut ruangan ini. Langit-langitnya terasa penuh dengan kebahagiaan. Aku merasa waktu seperti berhenti sebentar lalu hanyalah kami berdua orang paling bahagia.
Aku belum pernah melihat ia tertawa selepas ini. Dengan mulut terbuka lebar dan pandangan mengarah ke langit-langit.
“Hahahah..!!!” 


bersambung....